Sampai Kapan Bumi Bisa Bertahan
![]() |
| Photo by Guillaume de Germain on Unsplash |
Beberapa dekade yang lalu bumi ini masih 'perawan' dan belum terjamah oleh pesatnya perkembangan zaman atau biasa kita sebut globalisasi. Semua kehidupan manusia di bumi ini masih sederhana begitu pula dengan flora dan fauna yang ada di dalam bumi, semuanya masih beranekaragam. Eksploitasi belum merajalela, semua manusia seakan masih memiliki kesadaran yang tinggi akan kondisi bumi.
Kekacauan dimulai saat manusia memiliki mindset: kita masih memiliki banyak cadangan sumber daya dan kekayaan alam. Pikiran tersebut yang menjadikan cikal bakal manusia mulai berani mengeksploitasi bumi ini. Pemikiran atau mindset tersebut juga yang menjadikan manusia lupa bahwa regenerasi makhluk hidup masih berlanjut. Semua kekayaan alam mulai dari minyak, kayu, air, dan sebagainya seakan menjadikan manusia semakin ‘bergairah’ untuk terus mendapatkannya.
Saat ini negara-negara di Timur Tengah menjadi negara yang super power karena tanah di sana memiliki kandungan minyak yang sangat dibutuhkan oleh semua negara. Jutaan barel per hari diproduksi oleh negara-negara Timur Tengah. 1 barel sama dengan 151,4 liter. Bagaimana apabila diproduksi dalam satu minggu, sudah berapa barel? Bagaimana dalam satu bulan? Bagaimana dalam satu tahun? Bagaimana apabila diproduksi terus-menerus? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu bukanlah berupa angka melainkan adalah waktu. Mengapa waktu? Mari kita menoleh ke belakang sejenak, dahulu negara Timur Tengah adalah negara yang tandus dan belum banyak memperhatikan. Namun, saat manusia mulai mengenal pentingnya minyak dan Timur Tengah adalah 'gudangnya' maka semua terjadilah. Manusia mengeluarkan minyak bagaikan Aladdin mengeluarkan jin dalam lampunya untuk memenuhi kebutuhannya. Namun bedanya adalah minyak tidak dapat dimasukkan kembali ke dalam tanah. Kembali lagi, jawaban untuk pertanyaan di atas adalah waktu. Waktu yang akan memberi kita jawaban ‘Sampai Kapan Bumi Bisa Bertahan’, sampai kapan Timur Tengah dapat bertahan dan mempertahankan kandungan minyak mereka. Rata-rata sumber kekayaan negara-negara di Timur Tengah adalah dari minyak bumi. Apabila minyak itu habis tak bersisa, maka untuk mencukupi kebutuhan negaranya sendiri pun akan sangat sulit. Dalam hal ini hanya minyak bumi, bagaimana dengan nasib kekayaan bumi yang lain? Jawabannya, pasti hampir sama dengan nasib minyak bumi.
Bumi saat ini sudah sangat berbeda dan sangat tua. Bahkan bumi sudah ‘pikun’. Bumi terkadang lupa dengan musim yang seharusnya terjadi. Bumi terkadang lupa kapan matahari harus tenggelam dan terbit. Jika kita saling menyalahkan, tentu tidak ada habisnya. Kita sebagai manusia yang hidup sekarang sudah seharusnya menjaga dan memperbaiki keadaan bumi ini. Generasi terdahulu sudah mengaruniakan kita kekayaan alam yang masih lengkap––walaupun sudah banyak yang musnah––maka kita juga harus berusaha agar generasi setelah kita dapat menikmati kekayaan yang sama seperti kita.
‘Sampai Kapan Bumi Bisa Bertahan’ jawabannya bukan hanya waktu, melainkan juga hati kita. Sejauh mana hati kita bisa mencintai dengan tulus bumi yang sudah mencintai kita ini. Ijinkan saya mengutip kata dari Jostein Gaarder, "Kita menghancurkan planet kita sendiri. Kitalah yang telah melakukannya, dan kita sedang melakukannya sekarang".
Sekian.


Sesuai literatur
BalasHapus